I’m Make A Wish…

September 8th, 2007 by vi-biru

Vi_d_pondokn_1
Usiaku akan genap bertambah setahun
lagi…

Aku sudah memasuki usia dewasa rupanya…

Bersyukur padaNya itu sudah pasti,

Aku masih diberi umur yang panjang…

Refleksi dua puluh tiga tahun yang lalu…

Banyak yang telah aku lewati…

Suka duka dengan orang-orang yang
menyayangiku,

Canda tawa dengan sahabat-sahabatku,

Tangis haru dengan orang-orang terdekatku,

Semua itu satu rangkaian cerita indah yang
sangat berkesan

 

Vi_d_kebun
Aku melewati semuanya dengan baik,

Aku dewasa karena semua itu…

Dan menjadikannya bagian dari sejarah hidupku

 

Namun ada tanya yang mengusikku,

Apa aku sudah membahagiakan orang-orang itu?

Mungkin belum, mungkin tidak pernah sama
sekali…

Aku benar-benar keterlaluan!

 

Untuk semua kealpaanku itu,

Apa masih bisa aku tebus di usiaku yang
sekarang ini?

Apa masih ada kesempatan untuk aku
memperbaikinya?

Asaku demikian besar pada waktu yang diberiNya…

 

Vipic4
Aku tidak ingin mengecewakan orang-orang yang
kusayangi.

Aku tidak ingin membuat sedih orang-orang yang
menyayangiku,

Aku tidak ingin menyia-nyiakan hidupku,

Aku ingin hidupku bisa berguna untuk orang
lain..

Aku ingin hidupku bisa membahagiakan orang
lain..

Seperti halnya juga aku ingin bahagia

 

Karena itu, kalo boleh aku make a wish lagi…

Aku ingin tinggal di negeri yang rakyatnya
diberlakukan adil di mata hukum,

Aku ingin tinggal di negeri yang rakyatnya
tidak lagi digerogoti kemiskinan karena hartanya dirayak orang-orang serakah
yang tidak punya hati…

Aku ingin tinggal di negeri yang indah dan
tenang tanpa merasa terancam dengan bencana yang siap menerkam

Aku ingin tinggal di negeri yang damai, dimana
tidak ada pertikaian antar sesama saudara

Aku ingin melihat negeriku seperti negeri yang
ingin kutinggali…

 
My
SweetyBluePalace, 8 September 2007

 

 

 

Tentang Alam, Tentang Sahabat, Tentang Cinta yang diajarkan Hidup Kepadaku..

June 25th, 2007 by vi-biru

hhmm… judul yang lama dan gak ada isinya, tulisan yang belum selesai mungkin atau aku yang belum mau menyelesaikannya…
sebetulnya sudah lama aku ingin bercerita tentang alam, tentang sahabat dan tentang cinta yang diajarkan hidup kepadaku. Komentar awalku tentang ketiganya cukup tiga kata saja, "Indah, menyenangkan, tulus!"
semuanya begitu memberi arti, Alam, sahabat dan cinta yang diajarkan hidup kepadaku selama ini mampu mendewasakan aku,
Enu_1
tentang Alam yang diajarkan hidup kepadaku, bahwa Indah tidak harus selalu hanya bisa dinikmati tetapi harus dijaga dan dilestarikan dan membuatku tersadar kalau selama ini aku benar-benar tidak melakukan apa-apa untuk menjaga dan melestarikannya, lalu aku belajar merubah sikap dan berbuat sesuatu untuknya meskipun tidak seberapa…


Tw2
tentang sahabat yang diajarkan hidup kepadaku, bahwa menyenangkan jika ada kawan untuk berbagi dan saling mendukung dalam setiap hal positif yang dilakukan. Sahabat-sahabatku yang baik begitu berharga bagiku dan tanpa mereka aku mungkin bukanlah apa-apa…


Teddy_blue
tentang cinta yang diajarkan hidup kepadaku, ‘tulus’ cukup satu kata itu saja… aku tidak akan menguraikannya, sebab itu sesuatu yang dirasakan bukan untuk dibaca atau didengar…tapi kalo boleh jujur, aku mungkin memang tidak punya kata-kata yang cukup untuk menceritakannya, hehehe,.


satu hal yang pasti, ketiga-tiganya merupakan bagian yang tak bisa aku pisahkan dari diriku karena begitu banyak yang diajarkan hidup kepadaku dari ketiganya hingga aku bisa seperti saat ini..
Ya, alam, sahabat dan cinta tidak pernah lepas dari diriku dan tak akan pernah lepas…

Cerita tentang Hijau yang Tergadaikan di Negeri Kaya yang Miskin

May 16th, 2007 by vi-biru

Banyak regulasi yang dikeluarkan pemerintah Negeri Kaya saat ini hanya memprioritaskan satu hal yang konservatif, ‘pembangunan untuk kesejahteraan rakyat’.  Dengan sikap sok taunya, segala kebijakan dibuat tidak dengan melibatkan rakyatnya, kalopun ada itu hanya formalitas toh akhirnya juga diabaikan pendapat rakyatnya itu, padahal negara ini menganut paham demokrasi katanya. Lalu harapan akan keuntungan besar yang akan diperoleh terus disampaikan kepada rakyat seperti dongeng pengantar tidur untuk anak kecil, agar tertidur pulas dan nyenyak dengan mimpi indahnya. Pembangunan penting untuk memajukan negeri kita ini, pidatonya kira-kira seperti itu…

Lalu hutanpun dibabat untuk dibangun jalan yang bisa menghubungkan dua wilayah agar aksesnya lebih lancar untuk jalur transaksi ekonominya. Pohon-pohon ditumbang, untuk membangun ratusan rumah tinggal baru bagi para transmigran yang tidak lagi bisa tertampung di pulau sesak, dalihnya untuk pemerataan penduduk agar tidak terlalu padat hanya di satu daerah. Meranti, Ebony, diganti sawit dan jati yang kepemilikannya jelas oleh perusahaan swasta tapi diizinkan oleh pemerintah negeri  Kaya ini, dan rakyatnya dijadikan buruh disitu. Ini untuk solusi masalah krisis energi, kilahnya. Di sisi lain, ada juga izin land clearing untuk eksploitasi pertambangan di wilayah yang terdapat kandungan mineralnya yang bisa dijual, agar rakyat negeri ini bisa lebih maju dan sejahtera alasan mereka lagi. Kawasan lindung sekalipun, yang harusnya dilindungi agar tidak membawa dampak bencana di masa datang juga dikorbankan demi ‘kesejateraan rakyat’ negeri ini.

Bukan daratan saja, kawasan perairaan juga tidak luput dari incaran mereka. Negeri Kaya ini, kawasan perairan lebih luas dari daratannya, sehingga timbul ide untuk menimbunnya agar daratan bisa lebih luas, kehidupan dibawah laut sanapun diabaikan. Swallow reef di kedalaman lautan sana, yaitu dinding-dinding karang sedalam 2000 meter yang penuh dengan terumbu karang dan koral warna-warni, ikan-ikan berbagai jenis juga banyak dikorbankan hanya untuk kepentingan segelintir orang yang akan membangun gedung-gedung mewah tapi kekurangan lahan. Menurut ‘mereka’ lagi, ini tidak ada salahnya toh juga akan dinikmati rakyat negeri ini. Apa benar? Rakyat yang mana dulu pak? Apa yang selalu mengais di tempat sampah demi sesuap nasi, atau yang duduk meminta-minta di pinggir jalan dan perempatan lampu merah kota hanya untuk bertahan hidup setiap hari?

Negeri kaya yang Miskin ini , memang tidak pernah belajar dari sejarah.

Praktek-praktek eksploitasi sumber daya alam dengan dalih untuk pembangunan yang mensejahterakan rakyat itu sudah dari puluhan tahun lalu, namun hari ini kenyataannya justru lebih buruk. Laju degradasi lingkungan meningkat, bencana alam seperti tamu tak diundang yang selalu datang tanpa diduga. Tutupan hutan berkurang setiap hari, ironinya lagi penduduk miskin di negeri kaya ini meningkat setiap tahun. Ternyata Kesejahteraan hanya isapan jempol belaka, membayangkannya saja masih samar-samar. Jika terus seperti ini keadaannya, hanya dalam hitungan detik saja negeri Kaya ini akan berubah menjadi Negeri Miskin yang benar-benar miskin tak ada lagi yang bisa digadaikan. Ibarat Dewa Kehilangan yang berlengan satu, Jika mencium, ia tidak bisa memeluk, jika memeluk, ia tidak bisa menyentuh, jika berperang, ia tidak mungkin menang.

Dialog Pasir dan Kerikil Sungai

May 16th, 2007 by vi-biru

By: Viana

Kerikil :
“Hai Sir, hari ini cerah ya…”

Pasir   :
“Hai juga, iya nih Kil cerah, gak seperti kemarin-kemarin hujan terus.

  Wah kita bisa berjemur nih!”

Kerikil :
“emang itu yang aku tunggu-tunggu, selain itu aku akan punya teman 

bermain  lagi”

Pasir   :
“maksud kamu Kil, teman siapa?”

Kerikil :
“itu anak-anak yang tinggal di sekitar sungai ini, kalau cerah seperti ini

  mereka  akan bermain di sungai dan mengajak kita
juga”

Pasir   :
“o ya? Asyik dong! Aku juga punya teman lagi selain kamu. Eh, lihat tuh

  Kil,  mereka berlari-lari menuju kesini, benar
katamu.”

Kerikil : “aku bilang juga apa,
pasti mereka akan main di sungai ini. Sir,Sir,

sepertinya aku terangkat nih, salah satu anak itu
memungutku dan aku

akan dilemparkan  ke temannya. Hehehe… aku senang juga
melihat

keceriaan mereka, walaupun aku akhirnya ngos-ngosan dilempar
sana-sini”

Pasir   :
“lihat Kil, gelak tawa mereka setelah melemparmu bergantian sepertinya

             mereka bahagia mengajakmu bermain.
Hmm, aku semakin suka tempat

             ini..”

Kerikil :
“ya, aku menikmatinya juga karena aku gak kesepian disini. Tunggu aja

             giliranmu Sir, mereka pasti akan memungutmu juga dan melemparkanmu

             kesana kemari seperti aku..hehehe, tuh kan…”

Pasir   :
“eh Kil, Kil, tolong aku! Aku takut ketinggian, auw! Pusing… aduh! Sakit.”

Kerikil :
“hehehe… ya pertama aja kaya gitu nanti juga kamu suka. Menyenangkan

bermain dengan anak-anak itu”

Pasir   :
“iya ya… benar katamu, berputar-putar, diayunkan kesana-kamari lalu

             jatuh,  mirip roller coaster. Hehehe..kata orang sih gitu”

Buuumm…buuummm…mmmbbuumm…

Pasir    :
“Kil, bunyi apa itu? Berisik sekali…”

Kerikil  :
“pengganggu datang Sir, itu truk pengangkut Sirtukil. Mereka datang untuk

  mengangkuti kita dari sungai ini, kita gak
bisa menghindar”

Pasir    :
“aku takut Kil, aku gak mau pergi dari tempat ini. Ini kan rumah kita…”

              Hikz…hikz…hikz…

Kerikil  :
“udahlah Sir, jangan nangis. Tangisan gak akan merubah apa-apa,

  mungkin iya  kalau mereka dengar percakapan kita. Pasrah
aja, siapa tau 

  di tempat baru kita  lebih baik darisini.”

Pasir   :
“aku gak mau Kil, kamu sadar gak kita ini diperdagangkan oleh orang-orang

serakah itu, orang-orang yang punya
perusahaan CV.Ambil Sirtu disana itu”

Hikz…hikz…

Pasir   :
“apa kamu gak kasian sama sungai ini??! Kalau kita terlalu banyak diambil

darisini nanti akan merubah keadaan sungai
ini, kalau hujan sering turun

           luapan  airnya gak bisa lagi dikendalikan dan
berbahaya bagi anak-anak

            yang sering bermain di sungai ini, mereka bisa dengan mudah terseret

            arusnya…hikz..hikz…"          

Kerikil  :
“aku juga sedih sepertimu Sir, tapi kita gak bisa berbuat
apa-apa. Emang              
              sudah  nasib kita diperdagangkan, tanpa ditanya
dulu
kita sebenarnya                
              mau  apa?

Pasir    :
“hikz..iya..hikz..malang sekali nasib kita ya Kil, hikz…”

Kerikil  :
“aku juga marah dengan orang-orang yang tinggal di sekitar

            
              sungai ini, yang  setiap hari memanfaatkan sungai ini. Mereka
sama

              sekali tidak peduli dengan  aktivitas perusahaan itu, padahal akibatnya

              nanti, mereka  yang akan alami. Liat  saja ketika kita diangkut darisini

              mereka hanya menonton saja, bahkan ada yang  bekerja di perusahaan

             membantu mengangkuti
kita, jadi biar saja kalau ada  bencana yang

             datang di tempat ini, itu
akibat kemasabodohan mereka sendiri!"

Pasir   :
“ternyata kau perhatikan juga tingkah orang-orang itu Kil,
pantas saja kau

              semarah
ini. Ngomong-ngomong kita mau dibawa kemana ini Kil,

              apa kau tau?”

Kerikil :
“aku gak tau Sir, mungkin ke kota, mungkin juga ke pulau seberang..”

Pasir   : “Hikz…hikz….jangan
larang aku menangis Kil.. nanti aku juga berhenti

               sendiri  kalau aku sudah puas..hikz..hikz…”

 

……..o0o……..

hanya Gumam dinihariKu

May 11th, 2007 by vi-biru

Terjaga sepagi ini…

Diserang udara dingin yang bisa membuat pilek ini semakin parah

Sangat tidak menyenangkan

Seketika Tubuh kecil ini menggigil
saat sengaja kubuka pintu kamar

agar aku bisa duduk di teras depan sebentar

Nulis_blog
Aku rindu pemandangan langit malam yang bertabur bintang

ditambah satu bintang jatuh

dan asaku tetap abadi dalam doa-doa kecil yang terucap saat melihatnya melesat jatuh

sepertinya aku beruntung pagi ini,

di balik bukit sana tampak bulan malu-malu menyembul separuh

aku begitu kagum dengan pemandangan pukul 1.14 dini hari ini,

aku berubah pikiran, saat ini sangat menyenangkan…

entah berapa lama tidak sempat kunikmati keadaan seperti ini,

aku terlalu disibukan dengan segala macam agenda diskusi, rapat dan pertemuan-pertemuan

kerut di dahi ini bertambah karenanya…

aku sampai lupa kalo makan itu harus tiga kali sehari,

aku juga lupa kalo tidur itu minimal harus 6 jam sehari,

apa aku sebenarnya mengejar sesuatu ataukah aku hanya menghindari satu hal?

akhirnya aku kini dalam dekapan angin angkuh dinihari,
menunggu kokok ayam pertama dengan kesendirianku memeluk lutut

Catatan Perjalanan di teluk Tambu

April 10th, 2007 by vi-biru

Perahu_di_teluk_tambu
Menyusuri tepian pantai berpasir
putih di pagi hari, sambil menyapa para nelayan yang sibuk mempersiapkan peralatannya
untuk melaut hari itu seperti membangkitakan gairah tersendiri buatku,

Semilir angin yang berhembus
lembut, seolah sengaja menyapa semua yang ada di tepi pantai itu dengan
keramahannya..

Suasana pagi di teluk itu begitu indah, siapapun yang mengagumi keindahan
pasti akan betah disana..

Teluk Tambu, begitu dinamakan
masyarakat setempat berdasarkan salah satu nama Desa yang ada di sekitar
pesisir Teluk itu, Desa Tambu. Teluk ini secara administratif terletak di
wilayah pantai barat kabupaten Donggala Propinsi Sulawesi Tengah. Waktu tempuh
dari Kota Palu ibu kota propinsi Sulawesi Tengah kurang lebih 3-4 jam dengan
meggunakan kendaaran sepeda motor ataupun mobil.

Ya aku merasa betah di sana…

Siang harinya, aku sempatkan
mengobrol dengan beberapa orang nelayan yang kebetulan sengaja tidak melaut
hari itu karena kondisi akhir-akhir ini yang tidak menguntungkan menurut
mereka. Satu persatu nelayan itu mulai bercerita, lebih tepat mungkin curhat. Menurut
masyarakat setempat yang mayoritas adalah nelayan tangkap di Teluk itu, hasil
ikan dari Teluk Tambu sangat melimpah dan memang terkenal sehingga tidak heran
jika banyak nelayan dari luar (yang bukan nelayan pesisir teluk Tambu) ikut
memanen hasil laut di Teluk itu.

Empat bulan terakhir ini, para
nelayan di sekitar Teluk mulai resah…

mereka tidak lagi memperoleh
hasil tangkapan ikan yang melimpah, bahkan sering tidak mendapatkan hasil
tangkapan sama sekali setelah berhari-hari melaut. Para nelayan itu juga
menyampaikan keluhan-keluhan terkait dengan aktivitas-aktivitas nelayan dari
luar yang cenderung merusak, seperti melakukan pemboman ikan untuk memperolah
hasil yang banyak dalam waktu yang singkat, padahal itu sangat berakibat fatal
bagi kondisi perairan teluk. Aktivitas
destructive
fishing
seperti itu menyebabkan rusaknya habitat dalam laut seperti terumbu
karang yang merupakan tempat hidup ikan-ikan selama ini. Sehingga tidak
mengherankan lagi apabila hasil tangkapan para nelayan teluk kini menurun tidak
seperti biasanya. Karena ikan-ikan itu sudah tidak ada lagi disana ketika
tempat hidup mereka dirusak.

Minimnya pengetahuan tentang
pelestarian lingkungan untuk kehidupan yang berkelanjutan serta desakan
kebutuhan ekonomi, menjadi salah satu alasan bagi para nelayan untuk melakukan
illegal fishing/destructive fishing
tersebut. Harusnya pemerintah daerah lebih peka terhadap masalah-masalah ini dan
dicarikan solusi yang tepat. Misalnya dana pemberdayaan ekonomi masyarakat
pesisir (PEMP) yang dikucurkan setiap tahun bisa menjadi salah satu
jawaban atas masalah ini apabila distribusinya benar-benar tepat sasaran.
Dengan demikian dapat meminimalisir aktivitas
destructive fishing para nelayan atau mungkin bisa membawa
perubahan yang lebih berarti sehingga mereka tidak melakukan aktivitas itu lagi.

Setelah puas mengobrol dengan
para nelayan itu, aku pamit pada mereka..

Hari sudah sore ketika aku
meninggalkan pantai berpasir putih itu,

Aku bergegas menuju sebuah rumah
panggung khas pesisir, tempat aku menginap semalam. Tuan rumah menjamuku dengan
ikan bakar seadanya namun sangat lezat, menurut mereka ikan tersebut hasil dari
memancing selam dua hari, padahal biasanya tidak sampai seharian pasti hasilnya
bisa lebih dari yang ada di atas meja makan itu..

Benar-benar disayangkan jika
asset seperti ini tidak terjaga dan tidak bisa meningkatkan kesejahteraan
masyarakat sekitarnya…

Hhhmmm…

Sekembalinya aku dari sana segera
kutulis catatan ini, agar aku ingat janjiku untuk segera kembali lagi kesana,
ke Teluk indah itu… ya sekalian juga wisata pengorganisiran… (seperti kata
seorang temanku)
^-^

Palu, 8 April 2007

Ten things why I love blue

April 9th, 2007 by vi-biru

1. Biru itu Damai, bisa menentramkan setiap hati yang melihatnya bahkan ketika sedang dikuasai  amarah

2. Biru itu indah, liat aja dia ada di langit yang cerah dan laut yang teduh dan bisa membuat siapa saja betah memandangnya berlama-lama

3. Biru itu bahagia, aku sudah membuktikannya ketika kehadirannya begitu sangat berarti sampai ketika hal itu menjadi kenangan, menurutku itu kenangan yang paling membahagiakan karena perasaanku akan selalu biru…

4. Biru itu penyemangat, auranya mampu menbangkitkan gairah untuk terus melakukan sesuatu yang berarti bahkan ketika mungkin sedang terpuruk

5. Biru itu ketegaran, ada sesuatu yang dimilikinya untuk membuat setiap yang melihatnya harus tetap bertahan sekalipun banyak tantangan

6. Biru itu Harapan, dengan melihatnya saja seolah diyakinkan bahwa esok pasti akan lebih baik dari hari ini sehingga pengaharapan itu akan selalu ada

7. Biru itu Ramah, bisa menyesuaikan diri sehingga mudah dipadukan karena itu semua warna bersahabat dengannya

8. Biru itu Realistis, aku disadarkan olehnya dengan tidak pernah menjanjikan apa-apa ataupun bermimpi yang berlebihan cukup dengan menjadi diri sendiri dan menjalani setiap hari dengan penuh arti..

9. Biru itu segala-galanya buatku, kalopun dia pergi atau tidak lagi menjadi miliku, aku yakin tidak akan kehilangannya karena Biru sudah menjadi sebagian dari diriku

10. sembilan hal di atas kurasa sudah cukup untuk menggambarkan ‘why I love Blue’

Hanya Seonggok Kayu

March 6th, 2007 by vi-biru

Hari ini hujan turun lebih deras dari kemarin,

Sebelumnya aku sangat khawatir

Jika hujan tak kunjung reda

Kali ini aku memilih pasrah

Banjir sekalipun yang datang, aku tidak peduli

Aku kini tinggal seonggok kayu tak berharga

Pohonku ditebang oleh orang tak bertanggung jawab

Biar saja hujan setiap hari,

Biar banjir datang,

Biar aku terseret arusnya,

Sudah tak ada harapan untukku…

Andai kau peduli sekalipun, percuma!

Bukankah kau yang membiarkan orang itu menebang aku..?!

 

My sweety blue palace, March 5th 2007

Environment, Viana & Economic

February 12th, 2007 by vi-biru

Environment, Viana, Economic…..


Pelestarian lingkungan sangat penting untuk menjaga
sumber kehidupan yang berkelanjutan sama halnya peningkatan Ekonomi untuk
kemakmuran dan kesejahteraan rakyat juga tidak kalah penting. Akan tetapi pada
umumnya dua hal ini selalu dipandang sebagai dua hal yang saling
bertentangan, dua hal yang tidak akur
padahal keduanya saling ketergantungan. ketika berbicara pelestarian lingkungan
seolah-olah peningkatan ekonomi diabaikan demikian juga ketika membahas strategi
peningkatan eknomi, pelestarian lingkungan diabaikan. Cobalah melihat kedua hal
tersebut dari sisi yang positif bahwa pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan
hanya mungkin apabila ada perlindungan dan pelestarian lingkungan yang memadai dan
dapat dilaksanakan melalui internalisasi lingkungan ke dalam setiap kegiatan
pembangunan yang merupakan upaya peningkatan ekonomi.


Masalah lingkungan timbul karena ada eksternalitas,
yaitu tidak dimasukkannya biaya lingkungan ke dalam biaya produksi sehingga
mengakibatkan kerugian bagi orang atau pihak lain. Eksternalitas
lingkungan merupakan sekumpulan efek
yang tidak dapat diberi harga sehingga menciptakan saling ketergantungan
(konflik) misalnya, antara mereka yang menambang mineral dan masyarakat luas.
Mengabaikan eksternalitas lingkungan berarti menghindari untuk berpikir bahwa
batu bara adalah energi yang relatif murah, sehingga menambang batu bara dalam
jumlah yang lebih besar daripada yang seharusnya. Sekiranya sebelum
pertambangan, sebuah tempat dapat ditetapkan sebagai daerah yang mempunyai 75%
pohon pelindung, yang terdiri dari pohon-pohon ekaliptus maka dapat dikatakan
bahwa nilai lingkungan sebagai masukan dalam pertambangan sekurang-kurangnya
harus sama dengan biaya reklamasi dan menanami pohon-pohon kembali untuk menyediakan
75% pohon pelindung. Nilai ini merupakan nilai minimum karena biaya perbaikan
pohon-pohon pelindung tidak meliputi biaya cagar alam yang tidak diganggu dan
biaya persediaan air tanah yang terkontaminasi. Dari beberapa fakta lapangan
pada lokasi pertambangan, aktivitas pertambangan justru meninggalkan
lubang-lubang bekas penggalian di bagian permukaan tanah yang merupakan lapisan
tanah paling subur karena kandungan humusnya, yang kemudian hilang akibat
penggalian atau pengerukan yang dilakukan dan tidak memungkinkan untuk ditanami
kembali. Nilai ekonomi yang diperoleh dari hasil pertambangan tidak akan
sebanding dengan nilai kompensasi terhadap lahan produktif yang hilang.


Kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya
alam seperti ini akan mengakibatkan perubahan bentang alam, tanah penutup dan
merubah tata air. Hal ini terjadi apabila pertumbuhan ekonomi berjalan dengan
sangat cepat, juga apabila pelestarian sumber daya alam dan pengendalian
pencemaran tidak diindahkan, maka kegiatan ekonomi surut dengan cepat, terutama
ketika penduduk sedang berkembang.


Keasyikan pada pertumbuhan ekonomi memang seringkali
hanya menyebabkan kerusakan lingkungan alam yang tidak dapat diperbaiki.
Seperti,

1. membiarkan
pabrik-pabrik berproduksi tanpa ada usaha sedikitpun untuk mencegah limbah
beracun yang dikeluarkannya

2. terus
membabat hutan tanpa usaha yang cukup untuk reboisasi

hal ini justru akan dengan cepat mempersempit
pertumbuhan ekonomi karena apabila lingkungan alam turun melebihi daya
dukungnya, maka ekonomipun akan kehilangan kemampuannya untuk tumbuh.


Penting untuk diketahui bahwa peran Lingkungan
dalam Ekonomi adalah sebagai penyedia bahan baku, wadah untuk limbah dan
penyedia fasilitas. Akan tetapi jika hal ini hanya dimanfaatkan tanpa dijaga
keseimbangannya maka justru merugikan.

Misalnya, apabila konsentrasi pembuangan gas tidak
terlampau berat, susunan gas atmosfir yang asli dapat segera pulih kembali
karena kemampuan asimilasi dari lingkungan, namun jika pembuangan asap ke dalam
atmosfir terjadi terus-menerus dan intensif, maka lingkungan dapat kehilangan
kemampuan asimilasinya dan akan ada karbon dioksida (CO2) dan karbon monoksida
(CO) di atmosfir. Akibatnya lingkungan tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai
wadah pembuangan limbah, sehingga lingkungan juga tidak mampu memenuhi fungsi
lainnya sebagai penyedia bahan baku dan fasilitas.


Ketidak seimbangan antara aktivitas pemanfaatan
Sumber Daya Alam dengan kapasitas alam dan ketersediaan lahan yang dapat
dimanfaatkan sama halnya mengabaikan volume material yang dieksploitasi tidak
sebanding dengan daya dukung alamnya. Meskipun dibuat perbedaan yang jelas
antara sumber yang dapat diperbaharui dan yang tidak dapat diperbaharui, namun
bila salah kelola hampir semua sumber yang dapat diperbaharui dengan mudah
berubah menjadi tidak dapat diperbaharui.
Dalam
konteks ini lingkungan alam telah didefinisikan sebagai asset dalam sistem
ekonomi. Jika pada akhirnya hal ini berimplikasi pada rusaknya hubungan
ekosistem lingkungan sekitar berarti juga mengurangi kualitas asset ekonomi yang dimiliki atau bahkan sangat
mungkin kehilangan asset ekonomi yang dimiliki.


Karena itu perlu
diterapkan Prinsip utama ekonomi lingkungan yang mempunyai tujuan kebijakan
pertumbuhan mutu lingkungan dan GNP harus diperlakukan dalam keseimbangan,
sehingga dalam pengambilan kebijakan di segala tingkat masyarakat,
pertimbangan-pertimbangan lingkungan perlu menjadi komponen yang integral dari
pengambilan keputusan.

Ada beberapa maksud dikembangkannya Prinsip Ekonomi Lingkungan:

1). Ekonomi lingkungan merupakan sebuah alat manajemen lingkungan,

Sebagai alat manajemen
lingkungan, Ekonomi lingkungan digunakan untuk menilai keefektifan kegiatan
konservasi berdasarkan ringkasan dan klasifikasi biaya konservasi lingkungan.
Data Ekonomi lingkungan misalnya dapat juga digunakan untuk menentukan biaya
fasilitas pengelolaan lingkungan, biaya konservasi lingkungan keseluruhan dan
juga investasi yang diperlukan untuk kegiatan pengelolaan lingkungan. Selain
itu Ekonomi lingkungan juga digunakan untuk menilai tingkat keluaran dan
capaian tiap tahun untuk menjamin perbaikan kinerja lingkungan yang harus
berlangsung terus menerus.

2). Ekonomi lingkungan sebagai alat komunikasi dengan masyarakat.

Sebagai alat komunikasi
dengan masyarakat, Ekonomi lingkungan digunakan untuk menyampaikan dampak dari
kerusakan lingkungan, kegiatan konservasi lingkungan dan hasilnya kepada
publik. Tanggapan dan pandangan terhadap Ekonomi lingkungan dari para pihak,
pelanggan dan masyarakat digunakan sebagai umpan balik untuk merubah pendekatan
perusahaan dalam pelestarian atau pengelolaan lingkungan.

Penting juga mengetahui
mekanisme harga yang digunakan untuk menilai lingkungan, seperti harga setiap
barang sama dengan biaya produksi unit barang terakhir, yang dihasilkan di
dalam keseimbangan antara permintaan dan penawaran.

Misalnya, perusahaan pertambangan menghargai barang
tambangnya atas dasar biaya penyulingan mineral dan harga ini tidak termasuk
nilai ekologi yang hilang. Pertanyaannya kemudian, apakah harga yang ditetapkan
ini, cukup mencerminkan nilai pohon dan margasatwa yang telah hilang atau
dipindahkan agar dapat memulihkan batu bara itu?


Kebanyakan barang-barang lingkungan adalah ‘barang
publik’ atau barang campuran, yaitu barang yang berwujud sebagai barang milik
publik sampai pada suatu titik tertentu, jika sampai di bawah dari titik itu maka
menjadi barang pribadi. Setiap orang dapat mengkonsumsi barang publik
sebanyak-banyaknya dengan mengabaikan konsumsi orang lain yang dapat
mengkonsumsi dengan sebanyak-banyaknya pula. Oleh karena itu barang publik
dinilai tidak eksklusif dan biaya marginalnya nol atau tidak ada.

Pada awalnya, barang-barang publik tidak
memperlihatkan masalah harga dan konsumen dapat memanfaatkannya dengan cuma-cuma.
Pada kondisi seperti ini, akan mempercepat pemakaian berlebihan yang
mengakibatkan penurunan kualitas dan kerusakan. Misalnya, mikroorganisme dapat
menurunkan beberapa polutan dan tanaman dapat menyerap kelebihan karbon
dioksida dalam batas tertentu, ketika polutan dan karbon dioksida sudah
berlebihan dan tak terkendali penyebarannya, daya serap mikroorganisme dan
tanaman tidak lagi mampu mengasimilasinya karena sudah tidak seimbang lagi. Jika
sudah seperti ini, barang-barang yang tadinya berlimpah dan dapat dikonsumsi
dengan cuma-cuma akan berkurang dan untuk memperolehnya harus dibayar sesuai
dengan nilainya. Karenanya penting untuk menilai kualitas lingkungan sekitar
yang bertujuan untuk memulihkan kembali, meningkatkan dan melindungi kualitas
sumber daya alam serta sistem ekologi.


Saat ini, banyak perusahaan industri dan
jasa besar dunia yang kini menerapkan akuntansi lingkungan.
Tujuannya adalah
meningkatkan efisiensi pengelolaan lingkungan dengan melakukan penilaian
kegiatan lingkungan dari sudut pandang biaya (environmental costs) dan
manfaat atau efek (economic benefit). Ekonomi lingkungan diterapkan oleh
berbagai perusahaan untuk menghasilkan penilaian kuantitatif tentang biaya dan
efek perlindungan lingkungan (environmental protection).


Di Indonesia, Penilaian tingkat kinerja
perusahaan (Proper) terkait dengan lingkungan hidup yang menjadi program
tahunan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk penilaian tanggung jawab
perusahaan terhadap lingkungan, dampak pada lingkungan, yang dapat berpengaruh
pada penentuan kualitas kredit perusahaan, kelayakan perusahaan dan sebagainya.
Hasil penelitian ini disampaikan ke Bank atau kreditor lainnya. Proper ini
diatur dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 27/MenLH/2002. Misalnya
Bank sebagai debitur dapat menurunkan kredit bagi perusahaan berperingkat
buruk.
Jika tidak layak dari sudut lingkungan karena kinerja
buruk maka perusahaan bisa tidak diijinkan mendapatkan kredit. Ada juga
pemberian sistem ISO. Dengan sistem ISO perusahaan yang punya komitmen untuk
kemudian memperbaiki kinerja terhadap lingkungan yang baik dapat diberikan
sertifikat ISO sedangkan yang tidak tidak akan mendapatkannya. Perusahaan masih
terus bisa melakukan operasi bisnisnya. Namun dengan proper perusahaan bisa
tidak bisa diberikan ijin operasi atau tidak mendapatkan kredit.

Ada baiknya juga kebijakan
ini benar-benar dapat diimplementasikan kepada sejumlah perusahaan-perusahaan
yang melakukan eksploitasi sumber daya alam di negeri kita agar kecenderungan
daya rusaknya terhadap lingkungan tidak semakin tinggi akibat mengabaikan daya dukung lingkungan yang ada
karena pada akhirnya akan berakibat pada pertumbuhan ekonomi itu sendiri.

Semoga…

Referensi :

§ Kumpulan Makalah ED Walhi Sulawesi Tengah,
2006

§ Environmental Accounting, Tony
Djogo, 2006

§ Pengantar
Ekonomi Lingkungan
, Surna T. Djajadiningrat, 1997

Suara Alam

January 22nd, 2007 by vi-biru

Aargghh..!!!

Sejumput lagi akar-akar itu tercabut dari tubuhku

Entah sudah pohon keberapa yang mereka tumbang hari ini

Sudah terlalu banyak,

Aku tidak bisa lagi menghitungnya

Hampir semua hutanku kini gundul

Belum lagi lubang-lubang yang mereka gali di sekujur tubuhku

Hanya demi mengeruk harta terpendam yang kumiliki

Emas, bijih besi, gas nikel…

Semua dirampas dariku

Bukan hanya itu,
yang tampak di permukaan tubuhkupun mereka rampok

Pasir, kerikil dan batu-batuan indah itu

Mereka ambil seenaknya

Tidak puas dengan itu,

Lautku mereka cemari limbah,

Para pemodal itu juga beramai-ramai mengkapling-kapling wilayah lautku

Dengan dalih untuk pariwisata

Hingga para nelayan harus terusir dari tempat mereka sendiri

Lagi-lagi mereka mengabaikan hak-hakku…

Dengan sadar mereka menyakitiku,

Memperkosaku tanpa perasaan

Tubuhku rusak parah terkoyak-koyak,

Aku kini tidak secantik dulu lagi…

Hutan hijauku tinggal sedikit,

Lautku keruh dan makin kecil,

Harta terpendamku hampir habis dirayak para penjahat lingkungan itu!

Hhmm…
Kesabaranku habis kali ini!

Aku marah!

Tsunami, gempa bumi, banjir, tanah longsor,

Sengaja kubuat bersusul-susulan seperti tulah.

Tapi, mereka masih belum juga jera…

Mereka tetap mengupayakan cara untuk mengeksploitasi kekayaanku sampai habis

Mereka lupa, keseimbangankku harus tetap dijaga

Mungkin ketika sudah kehilangan tempat berpijak,
baru mereka akan sadar

Sebaiknya aku biarkan saja sampai hal itu terjadi

Ha…ha…ha…

Dasar manusia-manusia serakah!

Aku tidak akan ramah lagi padamu.
Aku tidak akan bersahabat lagi denganmu.