Kampanye Hidup Lajang
Tuesday, March 11th, 2008Uups! Hidup Lajang?
Kenapa harus hidup lajang?
Lalu Kampanye Hidup Lajang apaan tuh?
Ya mungkin agak kurang familiar tentang kampanye hidup lajang ini, karena yang paling sering ada dan tidak asing adalah kampanye tentang kandidat gubernur, bupati, partai atau kampanye upaya pelestarian lingkungan, penyelamatan bumi dari pemanasan global, de el el.. tapi kampanye hidup lajang? Hhhmmm.. produk baru mungkin ya…?
Bagi sebagian besar orang mungkin masih aneh dengan Hidup Lajang apalagi menggalang dukungan untuk pilihan Hidup Lajang agar dari banyak orang. Sementara sebagian kecil orang, menganggap hal ini adalah hal biasa bukan sesuatu yang heboh tapi lebih pada pilihan hidup masing-masing. Ada benarnya juga pendapat sekelompok kecil itu.. pertimbangannya antara lain lebih pada soal usia yang masih muda, cita-cita akan karir yang sukses & masa depan yang cerah. Hal ini memang masih menjadi prioritas banyak orang dan target yang harus dipenuhi sehingga hal lain yang kemungkinan besar akan berpotensi menghambat semua itu harus diabaikan. Bukankah dengan seorang diri akan lebih leluasa menjalani segala hal yang diinginkan? Ya kira-kira seperti itu yang memicu sebagian orang memilih untuk melajang karena tidak ingin direpotkan dengan hal-hal yang dikhawatirkan akan menjadi pengganggu bahkan penghancur terhadap cita-cita. Survey membuktikan, banyak kegagalan seseorang dipengaruhi oleh keadaan psikologisnya akibat kegagalan dalam membina hubungan pribadi yang terlalu banyak kompromi dengan komitmen yang membelokan cita-cita awal.
Selain itu, gaya hidup di zaman sekarang juga banyak berubah dari tempo doeloe. Kebutuhan hidup seseorang jauh lebih kompleks, pergaulan juga lebih luas dimana tidak lagi bergaul hanya dengan teman sekampung tapi antar pulau bahkan lintas negara semua menjadi tidak terbatas karena didukung oleh kecanggihan teknologi saat ini. Kondisi ini yang kemudian banyak menuntut seseorang berusaha lebih keras untuk dapat memenuhi hal-hal yang menjadi prioritas dalam hidupnya. Seperti kutipan dari salah satu majalah wanita berikut ini tentang 30 hal yang harus dilakukan sebelum usia 30 tahun* diantaranya : sudah bisa tinggal sendiri, investasi saham, punya property pribadi, menerbitkan buku, merintis bisnis, memiliki asuransi, keliling dunia, beasiswa ke luar negeri, wisata dengan kapal pesiar, karier mantap, beli mobil, membuat perpustakaan, aktif di kegiatan pelestarian lingkungan hidup, dan masih banyak lagi hal lain yang sepertinya terlalu banyak menjadi keinginan seseorang yang hidup di zaman ini.
Modernisasi juga turut berperan terhadap kehidupan dan pilihan hidup seseorang. Pandangan hidup, budaya dan kehidupan rohani juga sedikit banyak telah dipengaruhi oleh kehidupan modern. Menginginkan hal-hal yang serba simple, praktis dan instan adalah trend saat ini dan setiap orang senang menjalani itu. Termasuk keinginan hidup melajang yang dianggap jauh lebih simple dan praktis karena tidak perlu direpotkan dengan semua urusan yang berhubungan dengan orang lain selain diri sendiri. Kadang muncul statement, bahwa mengurus diri sendiri saja kurang becus, mengapa harus menambah beban lagi dengan mengurusi orang lain yang dalam hal ini misalnya pasangan, pacar atau calon suami..:-p
Hal-hal seperti di atas yang akhirnya turut mengaburkan tujuan membangun hubungan pribadi dengan seseorang. Sikap yang terlalu realistis, individualis & simbiosis mutualisme terhadap seseorang yang timbul akibat banyaknya tuntutan hidup yang harus dipenuhi masa kini kemudian memicu keinginan untuk memilih sendiri karena hidup sendiri jauh lebih baik ketimbang bersama orang lain yang asing dan terperangkap dalam komitmen-komitmen yang harus sering dikompromi. Seperti disalah satu buku yang membahas tentang membangun hubungan pribadi yang berkomitmen serius dengan seseorang, dikatakan bahwa hubungan tersebut pasti membawa konsekuensi-konsekuensi tertentu, seperti tidak bisa lagi menggunakan penghasilan sendiri sesuka hati, ngobrol dengan teman sampai larut malam setiap hari, harus bisa menjadi orang yang peka yang memahami perasaan dan persoalan pasangan, prinsip cuek is the best tidak dibenarkan lagi dalam hal ini, serta resiko lainnya bahwa tidak bisa lagi mencurahkan segala tenaga, pikiran dan waktu yang dimiliki sepenuhnya hanya untuk karier karena ada orang lain yang juga butuh perhatian yang sama**. Kecuali jika mau dikatakan orang yang tak berperasaan bisa saja bersikap masa bodoh dengan semua itu. Pertimbangan inilah yang membuat seseorang akhirnya memilih hidup lajang demi meminimalisir resiko-resiko tersebut atau mungkin menghindari segala konsekuensi yang dianggap terlalu banyak.
Lain lagi halnya jika bicara Cinta, seringkali terdengar selentingan-selentingan dari beberapa orang yang sangsi akan adanya cinta di abad ini “hari gini ngomongin cinta? basi kalee….” kira-kira seperti itu kalimat yang sering dilontarkan orang-orang. Pada umumnya semua sudah pesimis akan adanya cinta yang sungguh-sungguh atau cinta sejati yang mungkin saja ada tapi hanya dimiliki satu dua orang dan sulit mengidentifikasi keberadaannya jika benar-benar ada yang masih punya cinta seperti cinta Romeo & Juliet yang sehidup semati, tapi sekarang mungkin lebih banyak sehidup tidak semati;-p
Saat ini cinta tak lebih dari sebuah kepentingan ketika seseorang yang mencintai menuntut dirinya untuk dicintai juga. Cinta harus berbalas, tidak ada lagi cinta yang benar-benar tulus, bahkan cinta juga bisa diperjual belikan seperti komoditi sembako yang sebentar lagi naik harganya. Wajar jika kemudian banyak yang tidak percaya lagi terhadap cinta ataupun orang-orang yang mengaku punya cinta padahal bukan cinta yang dimilikinya tapi sebuah kepentingan. Dengan hidup lajang mungkin jauh lebih baik ketimbang terlibat dalam urusan cinta/kepentingan-kepentingan itu.
Yang harus diingat adalah Hidup itu pilihan…
Siapa saja berhak menentukan pilihan hidupnya, apakah itu memilih mengabdikan hidupnya pada komitmen simbiosis mutualisme yang tanpa ada jaminan tidak terjadi pengingkaran/pengkhianatan di kemudian hari…
Atau..memilih untuk Hidup Lajang yang lebih simple, praktis, efektif & efisien…hehehehe,.
Sekali lagi, semua itu pilihan yang penting jangan sampai salah memilih!***
Ref :
* Majalah Chic Edisi 05 tahun 2008
** Jomblo Bingung Kawin Pusing (S.Rahoyo,2006)
(catatan ’planning C’, 10 Maret 2008)