Cerita tentang Hijau yang Tergadaikan di Negeri Kaya yang Miskin
Wednesday, May 16th, 2007Banyak regulasi yang dikeluarkan pemerintah Negeri Kaya saat ini hanya memprioritaskan satu hal yang konservatif, ‘pembangunan untuk kesejahteraan rakyat’. Dengan sikap sok taunya, segala kebijakan dibuat tidak dengan melibatkan rakyatnya, kalopun ada itu hanya formalitas toh akhirnya juga diabaikan pendapat rakyatnya itu, padahal negara ini menganut paham demokrasi katanya. Lalu harapan akan keuntungan besar yang akan diperoleh terus disampaikan kepada rakyat seperti dongeng pengantar tidur untuk anak kecil, agar tertidur pulas dan nyenyak dengan mimpi indahnya. Pembangunan penting untuk memajukan negeri kita ini, pidatonya kira-kira seperti itu…
Lalu hutanpun dibabat untuk dibangun jalan yang bisa menghubungkan dua wilayah agar aksesnya lebih lancar untuk jalur transaksi ekonominya. Pohon-pohon ditumbang, untuk membangun ratusan rumah tinggal baru bagi para transmigran yang tidak lagi bisa tertampung di pulau sesak, dalihnya untuk pemerataan penduduk agar tidak terlalu padat hanya di satu daerah. Meranti, Ebony, diganti sawit dan jati yang kepemilikannya jelas oleh perusahaan swasta tapi diizinkan oleh pemerintah negeri Kaya ini, dan rakyatnya dijadikan buruh disitu. Ini untuk solusi masalah krisis energi, kilahnya. Di sisi lain, ada juga izin land clearing untuk eksploitasi pertambangan di wilayah yang terdapat kandungan mineralnya yang bisa dijual, agar rakyat negeri ini bisa lebih maju dan sejahtera alasan mereka lagi. Kawasan lindung sekalipun, yang harusnya dilindungi agar tidak membawa dampak bencana di masa datang juga dikorbankan demi ‘kesejateraan rakyat’ negeri ini.
Bukan daratan saja, kawasan perairaan juga tidak luput dari incaran mereka. Negeri Kaya ini, kawasan perairan lebih luas dari daratannya, sehingga timbul ide untuk menimbunnya agar daratan bisa lebih luas, kehidupan dibawah laut sanapun diabaikan. Swallow reef di kedalaman lautan sana, yaitu dinding-dinding karang sedalam 2000 meter yang penuh dengan terumbu karang dan koral warna-warni, ikan-ikan berbagai jenis juga banyak dikorbankan hanya untuk kepentingan segelintir orang yang akan membangun gedung-gedung mewah tapi kekurangan lahan. Menurut ‘mereka’ lagi, ini tidak ada salahnya toh juga akan dinikmati rakyat negeri ini. Apa benar? Rakyat yang mana dulu pak? Apa yang selalu mengais di tempat sampah demi sesuap nasi, atau yang duduk meminta-minta di pinggir jalan dan perempatan lampu merah kota hanya untuk bertahan hidup setiap hari?
Negeri kaya yang Miskin ini , memang tidak pernah belajar dari sejarah.
Praktek-praktek eksploitasi sumber daya alam dengan dalih untuk pembangunan yang mensejahterakan rakyat itu sudah dari puluhan tahun lalu, namun hari ini kenyataannya justru lebih buruk. Laju degradasi lingkungan meningkat, bencana alam seperti tamu tak diundang yang selalu datang tanpa diduga. Tutupan hutan berkurang setiap hari, ironinya lagi penduduk miskin di negeri kaya ini meningkat setiap tahun. Ternyata Kesejahteraan hanya isapan jempol belaka, membayangkannya saja masih samar-samar. Jika terus seperti ini keadaannya, hanya dalam hitungan detik saja negeri Kaya ini akan berubah menjadi Negeri Miskin yang benar-benar miskin tak ada lagi yang bisa digadaikan. Ibarat Dewa Kehilangan yang berlengan satu, Jika mencium, ia tidak bisa memeluk, jika memeluk, ia tidak bisa menyentuh, jika berperang, ia tidak mungkin menang.
