Environment, Viana & Economic
Monday, February 12th, 2007Environment, Viana, Economic…..
Pelestarian lingkungan sangat penting untuk menjaga
sumber kehidupan yang berkelanjutan sama halnya peningkatan Ekonomi untuk
kemakmuran dan kesejahteraan rakyat juga tidak kalah penting. Akan tetapi pada
umumnya dua hal ini selalu dipandang sebagai dua hal yang saling
bertentangan, dua hal yang tidak akur
padahal keduanya saling ketergantungan. ketika berbicara pelestarian lingkungan
seolah-olah peningkatan ekonomi diabaikan demikian juga ketika membahas strategi
peningkatan eknomi, pelestarian lingkungan diabaikan. Cobalah melihat kedua hal
tersebut dari sisi yang positif bahwa pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan
hanya mungkin apabila ada perlindungan dan pelestarian lingkungan yang memadai dan
dapat dilaksanakan melalui internalisasi lingkungan ke dalam setiap kegiatan
pembangunan yang merupakan upaya peningkatan ekonomi.
Masalah lingkungan timbul karena ada eksternalitas,
yaitu tidak dimasukkannya biaya lingkungan ke dalam biaya produksi sehingga
mengakibatkan kerugian bagi orang atau pihak lain. Eksternalitas
lingkungan merupakan sekumpulan efek
yang tidak dapat diberi harga sehingga menciptakan saling ketergantungan
(konflik) misalnya, antara mereka yang menambang mineral dan masyarakat luas.
Mengabaikan eksternalitas lingkungan berarti menghindari untuk berpikir bahwa
batu bara adalah energi yang relatif murah, sehingga menambang batu bara dalam
jumlah yang lebih besar daripada yang seharusnya. Sekiranya sebelum
pertambangan, sebuah tempat dapat ditetapkan sebagai daerah yang mempunyai 75%
pohon pelindung, yang terdiri dari pohon-pohon ekaliptus maka dapat dikatakan
bahwa nilai lingkungan sebagai masukan dalam pertambangan sekurang-kurangnya
harus sama dengan biaya reklamasi dan menanami pohon-pohon kembali untuk menyediakan
75% pohon pelindung. Nilai ini merupakan nilai minimum karena biaya perbaikan
pohon-pohon pelindung tidak meliputi biaya cagar alam yang tidak diganggu dan
biaya persediaan air tanah yang terkontaminasi. Dari beberapa fakta lapangan
pada lokasi pertambangan, aktivitas pertambangan justru meninggalkan
lubang-lubang bekas penggalian di bagian permukaan tanah yang merupakan lapisan
tanah paling subur karena kandungan humusnya, yang kemudian hilang akibat
penggalian atau pengerukan yang dilakukan dan tidak memungkinkan untuk ditanami
kembali. Nilai ekonomi yang diperoleh dari hasil pertambangan tidak akan
sebanding dengan nilai kompensasi terhadap lahan produktif yang hilang.
Kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya
alam seperti ini akan mengakibatkan perubahan bentang alam, tanah penutup dan
merubah tata air. Hal ini terjadi apabila pertumbuhan ekonomi berjalan dengan
sangat cepat, juga apabila pelestarian sumber daya alam dan pengendalian
pencemaran tidak diindahkan, maka kegiatan ekonomi surut dengan cepat, terutama
ketika penduduk sedang berkembang.
Keasyikan pada pertumbuhan ekonomi memang seringkali
hanya menyebabkan kerusakan lingkungan alam yang tidak dapat diperbaiki.
Seperti,
1. membiarkan
pabrik-pabrik berproduksi tanpa ada usaha sedikitpun untuk mencegah limbah
beracun yang dikeluarkannya
2. terus
membabat hutan tanpa usaha yang cukup untuk reboisasi
hal ini justru akan dengan cepat mempersempit
pertumbuhan ekonomi karena apabila lingkungan alam turun melebihi daya
dukungnya, maka ekonomipun akan kehilangan kemampuannya untuk tumbuh.
Penting untuk diketahui bahwa peran Lingkungan
dalam Ekonomi adalah sebagai penyedia bahan baku, wadah untuk limbah dan
penyedia fasilitas. Akan tetapi jika hal ini hanya dimanfaatkan tanpa dijaga
keseimbangannya maka justru merugikan.
Misalnya, apabila konsentrasi pembuangan gas tidak
terlampau berat, susunan gas atmosfir yang asli dapat segera pulih kembali
karena kemampuan asimilasi dari lingkungan, namun jika pembuangan asap ke dalam
atmosfir terjadi terus-menerus dan intensif, maka lingkungan dapat kehilangan
kemampuan asimilasinya dan akan ada karbon dioksida (CO2) dan karbon monoksida
(CO) di atmosfir. Akibatnya lingkungan tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai
wadah pembuangan limbah, sehingga lingkungan juga tidak mampu memenuhi fungsi
lainnya sebagai penyedia bahan baku dan fasilitas.
Ketidak seimbangan antara aktivitas pemanfaatan
Sumber Daya Alam dengan kapasitas alam dan ketersediaan lahan yang dapat
dimanfaatkan sama halnya mengabaikan volume material yang dieksploitasi tidak
sebanding dengan daya dukung alamnya. Meskipun dibuat perbedaan yang jelas
antara sumber yang dapat diperbaharui dan yang tidak dapat diperbaharui, namun
bila salah kelola hampir semua sumber yang dapat diperbaharui dengan mudah
berubah menjadi tidak dapat diperbaharui. Dalam
konteks ini lingkungan alam telah didefinisikan sebagai asset dalam sistem
ekonomi. Jika pada akhirnya hal ini berimplikasi pada rusaknya hubungan
ekosistem lingkungan sekitar berarti juga mengurangi kualitas asset ekonomi yang dimiliki atau bahkan sangat
mungkin kehilangan asset ekonomi yang dimiliki.
Karena itu perlu
diterapkan Prinsip utama ekonomi lingkungan yang mempunyai tujuan kebijakan
pertumbuhan mutu lingkungan dan GNP harus diperlakukan dalam keseimbangan,
sehingga dalam pengambilan kebijakan di segala tingkat masyarakat,
pertimbangan-pertimbangan lingkungan perlu menjadi komponen yang integral dari
pengambilan keputusan.
Ada beberapa maksud dikembangkannya Prinsip Ekonomi Lingkungan:
1). Ekonomi lingkungan merupakan sebuah alat manajemen lingkungan,
Sebagai alat manajemen
lingkungan, Ekonomi lingkungan digunakan untuk menilai keefektifan kegiatan
konservasi berdasarkan ringkasan dan klasifikasi biaya konservasi lingkungan.
Data Ekonomi lingkungan misalnya dapat juga digunakan untuk menentukan biaya
fasilitas pengelolaan lingkungan, biaya konservasi lingkungan keseluruhan dan
juga investasi yang diperlukan untuk kegiatan pengelolaan lingkungan. Selain
itu Ekonomi lingkungan juga digunakan untuk menilai tingkat keluaran dan
capaian tiap tahun untuk menjamin perbaikan kinerja lingkungan yang harus
berlangsung terus menerus.
2). Ekonomi lingkungan sebagai alat komunikasi dengan masyarakat.
Sebagai alat komunikasi
dengan masyarakat, Ekonomi lingkungan digunakan untuk menyampaikan dampak dari
kerusakan lingkungan, kegiatan konservasi lingkungan dan hasilnya kepada
publik. Tanggapan dan pandangan terhadap Ekonomi lingkungan dari para pihak,
pelanggan dan masyarakat digunakan sebagai umpan balik untuk merubah pendekatan
perusahaan dalam pelestarian atau pengelolaan lingkungan.
Penting juga mengetahui
mekanisme harga yang digunakan untuk menilai lingkungan, seperti harga setiap
barang sama dengan biaya produksi unit barang terakhir, yang dihasilkan di
dalam keseimbangan antara permintaan dan penawaran.
Misalnya, perusahaan pertambangan menghargai barang
tambangnya atas dasar biaya penyulingan mineral dan harga ini tidak termasuk
nilai ekologi yang hilang. Pertanyaannya kemudian, apakah harga yang ditetapkan
ini, cukup mencerminkan nilai pohon dan margasatwa yang telah hilang atau
dipindahkan agar dapat memulihkan batu bara itu?
Kebanyakan barang-barang lingkungan adalah ‘barang
publik’ atau barang campuran, yaitu barang yang berwujud sebagai barang milik
publik sampai pada suatu titik tertentu, jika sampai di bawah dari titik itu maka
menjadi barang pribadi. Setiap orang dapat mengkonsumsi barang publik
sebanyak-banyaknya dengan mengabaikan konsumsi orang lain yang dapat
mengkonsumsi dengan sebanyak-banyaknya pula. Oleh karena itu barang publik
dinilai tidak eksklusif dan biaya marginalnya nol atau tidak ada.
Pada awalnya, barang-barang publik tidak
memperlihatkan masalah harga dan konsumen dapat memanfaatkannya dengan cuma-cuma.
Pada kondisi seperti ini, akan mempercepat pemakaian berlebihan yang
mengakibatkan penurunan kualitas dan kerusakan. Misalnya, mikroorganisme dapat
menurunkan beberapa polutan dan tanaman dapat menyerap kelebihan karbon
dioksida dalam batas tertentu, ketika polutan dan karbon dioksida sudah
berlebihan dan tak terkendali penyebarannya, daya serap mikroorganisme dan
tanaman tidak lagi mampu mengasimilasinya karena sudah tidak seimbang lagi. Jika
sudah seperti ini, barang-barang yang tadinya berlimpah dan dapat dikonsumsi
dengan cuma-cuma akan berkurang dan untuk memperolehnya harus dibayar sesuai
dengan nilainya. Karenanya penting untuk menilai kualitas lingkungan sekitar
yang bertujuan untuk memulihkan kembali, meningkatkan dan melindungi kualitas
sumber daya alam serta sistem ekologi.
Saat ini, banyak perusahaan industri dan
jasa besar dunia yang kini menerapkan akuntansi lingkungan. Tujuannya adalah
meningkatkan efisiensi pengelolaan lingkungan dengan melakukan penilaian
kegiatan lingkungan dari sudut pandang biaya (environmental costs) dan
manfaat atau efek (economic benefit). Ekonomi lingkungan diterapkan oleh
berbagai perusahaan untuk menghasilkan penilaian kuantitatif tentang biaya dan
efek perlindungan lingkungan (environmental protection).
Di Indonesia, Penilaian tingkat kinerja
perusahaan (Proper) terkait dengan lingkungan hidup yang menjadi program
tahunan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk penilaian tanggung jawab
perusahaan terhadap lingkungan, dampak pada lingkungan, yang dapat berpengaruh
pada penentuan kualitas kredit perusahaan, kelayakan perusahaan dan sebagainya.
Hasil penelitian ini disampaikan ke Bank atau kreditor lainnya. Proper ini
diatur dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 27/MenLH/2002. Misalnya
Bank sebagai debitur dapat menurunkan kredit bagi perusahaan berperingkat
buruk. Jika tidak layak dari sudut lingkungan karena kinerja
buruk maka perusahaan bisa tidak diijinkan mendapatkan kredit. Ada juga
pemberian sistem ISO. Dengan sistem ISO perusahaan yang punya komitmen untuk
kemudian memperbaiki kinerja terhadap lingkungan yang baik dapat diberikan
sertifikat ISO sedangkan yang tidak tidak akan mendapatkannya. Perusahaan masih
terus bisa melakukan operasi bisnisnya. Namun dengan proper perusahaan bisa
tidak bisa diberikan ijin operasi atau tidak mendapatkan kredit.
Ada baiknya juga kebijakan
ini benar-benar dapat diimplementasikan kepada sejumlah perusahaan-perusahaan
yang melakukan eksploitasi sumber daya alam di negeri kita agar kecenderungan
daya rusaknya terhadap lingkungan tidak semakin tinggi akibat mengabaikan daya dukung lingkungan yang ada
karena pada akhirnya akan berakibat pada pertumbuhan ekonomi itu sendiri.
Semoga…
Referensi :
§ Kumpulan Makalah ED Walhi Sulawesi Tengah,
2006
§ Environmental Accounting, Tony
Djogo, 2006
§ Pengantar
Ekonomi Lingkungan, Surna T. Djajadiningrat, 1997