Suara Alam
Monday, January 22nd, 2007Aargghh..!!!
Sejumput lagi akar-akar itu tercabut dari tubuhku
Entah sudah pohon keberapa yang mereka tumbang hari ini
Sudah terlalu banyak,
Aku tidak bisa lagi menghitungnya
Hampir semua hutanku kini gundul
Belum lagi lubang-lubang yang mereka gali di sekujur tubuhku
Hanya demi mengeruk harta terpendam yang kumiliki
Emas, bijih besi, gas nikel…
Semua dirampas dariku
Bukan hanya itu,
yang tampak di permukaan tubuhkupun mereka rampok
Pasir, kerikil dan batu-batuan indah itu
Mereka ambil seenaknya
Tidak puas dengan itu,
Lautku mereka cemari limbah,
Para pemodal itu juga beramai-ramai mengkapling-kapling wilayah lautku
Dengan dalih untuk pariwisata
Hingga para nelayan harus terusir dari tempat mereka sendiri
Lagi-lagi mereka mengabaikan hak-hakku…
Dengan sadar mereka menyakitiku,
Memperkosaku tanpa perasaan
Tubuhku rusak parah terkoyak-koyak,
Aku kini tidak secantik dulu lagi…
Hutan hijauku tinggal sedikit,
Lautku keruh dan makin kecil,
Harta terpendamku hampir habis dirayak para penjahat lingkungan itu!
Hhmm…
Kesabaranku habis kali ini!
Aku marah!
Tsunami, gempa bumi, banjir, tanah longsor,
Sengaja kubuat bersusul-susulan seperti tulah.
Tapi, mereka masih belum juga jera…
Mereka tetap mengupayakan cara untuk mengeksploitasi kekayaanku sampai habis
Mereka lupa, keseimbangankku harus tetap dijaga
Mungkin ketika sudah kehilangan tempat berpijak,
baru mereka akan sadar
Sebaiknya aku biarkan saja sampai hal itu terjadi
Ha…ha…ha…
Dasar manusia-manusia serakah!
Aku tidak akan ramah lagi padamu.
Aku tidak akan bersahabat lagi denganmu.